MALL
by Yaya
Apa
yang terlintas dibenak kita ketika mendengar kata MALL? Sebagian besar orang
didunia pasti menganggap mall sebagai salah satu tempat untuk jalan-jalan,
makan, atau hanya untuk menonton film. Banyak hal yang sebenarnya kita
defenisikan untuk menjawab pertanyaan diatas.
Mall
memang menjadi salah satu icon untuk kota metropolitan. Dengan asumsi bahwa
semakin banyak mall dan semakin maju serta memiliki teknologi tinggi makan maka
kota itu akan masuk sebagai salah satu kota metropolitan. Walaupun pada akhirnya kita tak ada hal yang
kita tak sadari hingga terjebak di Kapitalis.
Saya sendiri mengakui mall sebagai
salah satu pusat perbelanjaan dan pusat hiburan yang paling populer didunia
ini. Setiap orang dunia ini yang tak buta lagi dengan teknologi pasti
punya perspktif sendiri mengenai mall. Tak
dapat dipungkiri bahwa pada dasarnya manusia punya nafsu untuk memuaskan diri
maka mall muncul sebagai solusi.
Mall sendiri punya tawaran yang
menggiurkan sehingga dapat meluluhkan
hati untuk selalu berkunjung ke mall. Hang out di mall telah menjadi gaya hidup
untuk sebagian orang. Untuk kelihatan keren makanya harus nongkrong di mall dan
itulah yang terjadi saat ini.
Perubahan yang terjadi di era
globalisasi ini tak dapat di bendung lagi dengan persaingan yang besar dan
tetap melihat kualitas dari barang yang diinginkan. Pasar tradisional pun kian
terpinggirkan walaupun sebagian dari kita pasti masih memanfaatkan pasar
tradisional. Tapi akan melihat jelas bedanya gengsinya orang belanja di mall
dan pasar tradisional.
ketika sedang jalan-jalan di mall
kebanyakan kita tertipu dengan kata diskon. Mungkin sebagian dari kita tidak
terlalu peduli kenapa besar sekali nilai diskonnya dimulai dari 5% - 75 % dan
pastinya ibu-ibu akan girang ketika melihat kata diskon padahal itu adalah
model pemasaran atau bentuk promosi untuk melariskan barangnya mereka.
Diskon memang menjadi hal yang
penting bagi konsumen tapi tidakkah itu menimbulkan pertanyaan dalam benaknya kita? seperti
Apakah mereka mendapatkan keuntungan jika mereka memberikan diskon yang begitu
besar? Padahal pada dasarnya mereka mendapatkan keuntungan.
Sebagaimana prinsif ekonomi “pengeluaran
sedikit tapi pemasukan besar” dengan kata lain para produsen takkan memproduksi
jika akan rugi maka mereka menggunakan
model promosi seperti itu. Intinya tak ada penjual mau rugi pasti mau untung
yang besar dalam bisnis atau usaha yang digelutinya.
Jika saya kebetulan jalan-jalan di
mall maka mata saya selalu sibuk memperhatikan apa saja yang terjadi bukan Cuma
melihat barang-barang atau makanan saja tapi memanfaatkan otakku untuk merekam
apa yang kulihat. Saya percaya bahwa sebagian orang pasti tidak menyadari
tentang kondisi ini.
Kondisi dimana kita telah ‘tertipu’
walaupun liberalis mangatakan bahwa kerjasama dapat terwujud dengan Free Trade
yang dilakukan oleh semua aktor di dunia tetap saja ada pro dan kontranya.
Berbeda lagi dengan Kaum Marxis mengatakan bahwa ketiadaan kelas akan
mewujudkan perdamaian tapi pada dasarnya kita masih terjebak dalam ruang yang
masih menjalankan sistem kelas sosial.
Pada akhirnya saya menyimpulkan
bahwa keadaan ini masih belum banyak di pahami oleh orang-orang di dunia ini.
Keadaan dimana kita telah tertipu dengan visual yang digunakan untuk mempengaruhi
kita dalam mengambil tindakan yang kita pikir benar. Bukannya saya menyudutkan
satu pihak disini tapi saya hanya menuangkan apa yang saya pikirkan dalam
memandang fenomena ‘mall’ yang menjadi simbol metropolitan sebuah kota.
Komentar
Posting Komentar