Sebuah riset yang menjadi tugas mata kuliah di semester tujuh mengharuskan kami untuk turun ke lapangan untuk mencari data. Sebelum melakukan riset kami mengundi terlebih dahulu untuk menentukan objek yang akan kami teliti. Siang itu pak Bobby sebagai dosen pengampuh mata kuliah Politik Bisnis memberikan delapan pilihan untuk kategori industri ekonomi kreatif di Makassar. Kami awalnya diberikan kesempatan untuk memilih ingin subjek apa yang akan diteliti dan ternyata hanya satu orang yang sesuai dengan keinginannya yaitu Adenovianto.
Berselang seminggu kemudian saya memutuskan untuk melakukan riset lapangan sendiri. Saya menuju kampus dengan berjalan kaki sekitar sepuluh menit dari kost ke kampus dan setelah beberapa menit saat dikampus saya pun berangkat.
Saya menggunakan transfortasi online untuk menuju ke Rappokalling. Hobbyphobic adalah salah satu industri kreatif yang bergerak dibidang fashion yang berlokasi di Makassar. Sebagai peneliti pemula saya kurang tahu dimana lokasi yang harus saya tujuh.
Sesampai dilokasi yang saya tujuh saya bertanya kepada salah satu warung yang ada disana dimana keberadaan Hobbyphobic itu sendiri. Beberapa ibu-ibu tengah berbelanja di warung serabutan dan saya pun menghampiri mereka untuk bertanya dimana rumah pemilik Hobbyphobic. Saya pun diarahkan ke sebelah warung tersebut dan itu bukan penampakan sebagai salah satu tempat penyablonan yang ada. Soalnya yang tertera didepan rumahnya adalah nama warnet dan yang saya cari adalah keberadaan hobbyphobic.
Tak berselang beberapa saat seorang ibu dan bapak datang menyapa saya dan berkata bahwa rumah yang saya cari adalah ini. Tetapi saya masih sibuk dengan alur pemikiran saya dan tiba-tiba keluarlah seseorang dari dalam rumah yang menyapa saya. Dan pada akhirnya saya mulai sadar bahwa ternyata saya sudah menemukan lokasinya.
Saya dipersilakan masuk oleh kak Adi sebagai owner dari Hobbyphobic itu sendiri. Saya memperkenalkan diri sebagai mahasiswa yang tengah melakukan riset dan berasal dari Universitas Bosowa yang mengambil jurusan Ilmu Hubungan Internasional dan riset ini berkaitan dengan mata kuliah yang tengah saya program. Lalu sedikit basa-basi untuk itu.
Saya menjelaskan maksud saya untuk melakukan wawancara tetapi sebelum saya melanjutkan maksud kedatangan saya, kak Adi permisi untuk membuat kopi dan mengambil rokok katanya supaya lebih rileks saja untuk diwawancara. Setelah ia masuk ke dapur saya memperhatikan sekeliling ruangan tengah yang juga berfungsi sebagai tempat untuk memproduksi. Lalu saja mengambil beberapa gambar dari beberapa papan yang biasa digunakan sablon baju dan lainnya. Diruangan itu juga ada beberapa sampel baju yang telah disablon.
Lalu kami saat itu memulai wawancara dengan kak Adi sebagai narasumbernya dan saya sebagai pewawancaranya. Awalnya saja bertanya-tanya asal-muasal dari Hobbyphobic dan kak Adi mulai menjelaskan dengan antusias.
“Awalnya saya adalah memulai mebuat danbo sebagai salah satu item yang saya produksi jauh sebelum masuk ke Indonesia dan Jepang menjadi kiblatnya danbo. Lalu mencoba hal baru lagi yaitu membuat lampu benang yang populer saat itu karena terkesan langkah untuk didapatkan di Sulawesi, Papua, ataupun Maluku tetapi pulau jawa sudah ada saat itu, kata Kak Adi”.
Tahun 2015 saya memulai usaha Hobbyphobic bersama Gilang, pacar saya. Jelas kak Adi saat itu.
Lalu saya mulai bertanya panjang lebar dari hambatan dan tantangan tersendiri. Dan kak Adi menjelaskan bahwa tantangan terbesar yang dihadapinya adalah rasa malas untuk itu dia punya jurus jitu untuk menghindarinya dengan menghibur diri main game. Selain itu target utama dari Industri kreatif , Hobbyphobic adalah anak muda dengan berbagai alasan seperti ada yang ingin berpakaian couple dengan pasangannya atau ada juga yang sudah bosan dengan baju dipertokoan.
Dalam perjalannya saya menanyakan keuntungan yang didapatkan dalam setahun. Kak Adi mulai menjelaskan sebagai salah satu pelaku ekonomi kreatif yang ada di Makassar ia dapat menghasilkan sekitar Rp 60 juta per tahunnya dalam keuntungan yang bersih dan ini masuk dalam kategori yang sedikit untuk bidang yang ia jalankan. Bermodalkan uang sebesar Rp 500 ribu rupiah yang ia gunakan menjadi modal hingga sampai titik ini.
Selain fokus dengan Hobbyphobic-nya kak ada banyak terlibat dengan beberapa komunitas, salah satunya yakni Makassar Zine Library. Seperti yang terlihat bahwa Hobbyphopic merupakan sebuah bisnis yang menghasilkan uang dan komunitas Makassar Zine Library merupakan sebuah komunitas alternatif yang melibatkan orang-orang yang ingin berbagi kisah, menyalurkan hobby dalam sebuah zine non-komersial.
Keterlibatan Hobbyphobic menurut kak Adi dengan Makassar Zine Library tidak secara langsung tetapi melalui dirinya ia berbagi dan berkolaborasi untuk membantu orang-orang yang tertarik dengan dunia sablon dan zine. Salah satu event yang menjadi kolaborasi keduanya diadakan pada akhir bulan november lalu.
Melihat bagaimana Hobbyphobic memberikan sumbangsinya terhadap komunitas Makassar Zine Makassar dan bagaimana keduanya saling mengisi ruang untuk mengekspresikan diri dalam kreativitas dan ide yang ingin dituangkan dalam sablon dan zine. Hobbyphobic menjadi salah satu pengisi acara dalam kegiatan Makassar Zine Library yang diwakili oleh owner-nya Kak Adi dimana mejelaskan bahkan mempraktekkan secara langsung bagaimana dalam menyablon. Selain ikut berbagi tentang dunia menyablon, ternyata ada juga ikut juga memberikan sumbangan berupa materiil. Seperti yang dikemukakan oleh kak Gilang bahwa pernah ada suatu event yang mereka hadiri dan mereka membagikan zine secara gratis dan dananya berasal dari keuntungan yang didapatkan oleh Hobbyphobic.
Saya dapat meilhat sebuah pola yang dibangun oleh hubungan antara Hobbyphobic dan Makassar Zine Library dimana keduanya punya aktor yang sama dalam hal ini yang terlibat. Owner Hobbyphobic juga merupakan bagian dari penggagas dari Makassar Zine Library. Mereka berinteraksi melalui pola-pola kolaborasi, sharing, dan edukasi. Sehingga melalui interaksi yang dibangun mempengaruhi pembangunan komunitas Makassar Zine Library.
Salah satu contohnya adalah workshop yang dilakukan oleh Makassar Zine Library dan salah satu orang yang sharing adalah kak Adi yang tak lain sebagai owner dari Hobbyphobic. Selain itu, ada juga kolaborasi yang dilakukakn oleh keduanya dimana merchandise yang disediakan oleh Makassar Zine Library diproduksi oleh Hobbyphobic. Keduanya saling terkait dengan erat dimana secara ekonomi kreatif Hobbyphobic tetap akan berjalan dan melalui Makassar Zine Library mereka mempromosikannya. Dilain sisi, kolaborasi keduanya juga diuntungkan bagi komunitas Makassar Zine Library untuk tetap bisa berlanjut komunitasnya diperlukan materi dan melalui kolaborasi keduanya dapat diuntungkan dari segi ekonominya.
Dalam pembangunan komunitasnya tentunya ada relasi dimana keduanyapun secara personal saling terkait baik itu dari orang-orang yang terlibat maupun lingkungan dari keduanya.
Hobbyphobic punya relasi dengan komunitas punk dan begitupun Makassar Zine Library pun sangat dekat dengan itu.
Sebagai pelaku ekonomi kreatif tentunya kak Adi punya pandangan tersendiri dan keterlibatannya dalam komunitas Makassar Zine Library menjadi bentuk kesadaran bahwa bermasyarakat dan membangun komunitasnya menjadi penting untuk perubahan yang lebih baik dan untuk menuangakan gagasan anak muda dalam kanvas kain serta Zine. Bukan lagi hanya mengejar materi tapi menjadi bagaian dari perubahan itu penting dan kontribusi yang lebih baik dibanding merugikan diri sendiri.
Seo
Komentar
Posting Komentar