Aku
terpikat dengan tuturmu dan senyummu. Begitulah aku mulai menjadikan dia sebagai
salah satu objekku ketika aku merasa bosan. Aku tahu terlalu berlebihan
mengharapkannya hadir menemani hari-hariku. Tidak ada yang special selama aku
mulai menyukainya hanya sebagai objek tak lebih. Seorang laki-laki yang
berperawakan tampan dan hitam manis. Setiap tuturnya menenangkan hatiku tapi
aku bahkan tak mampu menatapnya selalu sembunyi dibalik wajahku. Aku mulai
menjadi gila jika memikirkannya. Seorang laki-laki yang mencuri perhatianku.
Tapi aku
terbangun dari ilusiku yang selama ini kubangun. Aku harus sadar bahwa pada
kenyataannya aku hanya sebagai pengangum tak lebih dari itu. Dengan berat hati aku bertekad untuk mulai
menghilangkan dia dalam pikiranku dia hanya objek yang menarik tak lebih dari
itu. Sebuah objek yang sempat mengalihkan duniaku untuk sesaat. Cinta bertepuk
sebelah tangan itu lebih baik karena aku yang memulai dan aku yang mengakhirnya
tanpa menyesal itu yang henat dari cinta sebelah tanganku ini.
***
Aku terbangun pagi ini dengan
harapan bahwa semua akan baik-baik saja. Aku hamper terlambat ke sekolah ini
semua gara-gara masih aku masih bengong di depan cermin untuk beberapa saat. Tak
ada yang istimewah hari ini aku mulai masuk kelas dan disambut dua sahabatku
sepertinya mereka akan membicarakan tentang banyak hal tapi saying gurunya
keburu datang dan membuat semua orang langsung kembali ke bangku masing-masing
dan bersiap untuk memberikan hormat kepada Pak Ardan wali kelas kami sekaligus
sebagai guru bahasa Indonesia.
Dua jam berlalu dan pak Ardan
akhirnya meninggalkan kelas yang membosankan dengan pelajaran menulis paragraph
deskriptif tentang diri sendiri. Tak berselang lima menit guru matematika masuk
dan mengajarkan tentang logika matematika yang membuatku pusing tujuh keliling
dengan soal-soalnya dan jelas saja kami mendapatkan tugas untuk dikerja
dirumah. Aku mulai bosan belajar matematika ketika aku tidak mengerti. Jam istrahat
tiba dan lonceng untuk istrahat berbunyi dan jangan Tanya lagi apa yang terjadi
semua orang melangkahkan kakinya ke kantin akibatnya aku memiliki ke toilet
sambil menunggu kantin sepi dari alien-alien tidak berperasaan. Bagaimana bisa
aku mengatakannya?
**Keadaan kantin jam istrahat
Permisi-permisi, permisi-permisi.
Aku pesan bakso teriak meja 12. Aku pesan mie ayam” teriak meja 2. Aku pesan
mie kuah gak pakai bawang goreng, ibu? teriak meja 3. Dan banyak lagi terkadang
ketika aku dikantin ingin memesan malah jadi penjaga kantin sementara
menggantikan ibu kantin mencatat dan menjadi kasir dadakan dan pada akhirnya
aku disuruh sendiri meracik makananku. “apa coba ini,bu. Masa aku bikin sendiri
aku juga pelanggaan ibu.” rengekku pada ibu kantin dan ibu kantin Cuma jawab “
kamu bisakan urus dirimu sendiri”.
Dan sepulang sekolah aku ikut
klub berkebun sekedar hoby yang ingin kusalurkan berhubung dirumah tanamannya
pada pohon-pohon semua dan beberapa tanaman hias yang dirawat mamaku. Aku suka
dengan tanaman hias dan ketika aku tahu ada klub berkebun aku bersemangat
walaupun pada awal-awal masuk klub ini aku syok.
**Flashback
Aku mendaftar untuk masuk klub
ini dengan harapan Cuma nyiram-nyiram bunga saja kan itu gampang dalam benakku.
Dan pada kenyataannya aku benar-benar berkebun ala petani yang dimulai dengan
menggarap lahan sendiri hingga menanam sendiri dan barulah merawatnya dan bukan
hanya itu kita juga membudidayakan buah ini yang membuatku bertahan”buah”. Sebuah
lahan yang cukup luas dibelakang sekolah yang memang diperuntukkan untuk klub
berkebun dan bercocok tanam. Aku mula-mula belajar membuat sendiri lahan untuk
tanamanku dan mulai memilih apa yang mau aku budidayakan dan pilihanku jatuh
pada tanaman hias dan uah-buahan. Entah mengapa setelah lama masuk klub itu
membuatku senang.
Flash end**
Seperti biasa aku melihat keadaan
buah melon dan beberapa timun yang sedang berbuah apa ada masalah atau adakah
yang sudah berbuah. Rasanya menantikan buah-buah ini berbuah butuh kesabaran
yang ekstra untuk melihat pucuk baru saja aku sudah bahagia bagaimana kalo
meihatnya sudah berbuah. Tanpa kusadari seseorang berjalan dibelakangku pelan
sekali hingga aku sadar ketika dia melewatiku. Kuperhatikan kemana dia
sore-sore begini lewat belakang sekolah lagi. Aku pun mengikutinya tanpa
kusadari rasa penasaranku membawah langkah kakiku mengikutinya hingga ia berhenti
dan bertanya padaku.
“apa yang kamu lakukan ?
mengikutiku?” Tanyanya sambil memasukkan tangannya kedalam saku celananya. Seorang
laki-laki yang terkenal karena tidak mudah berbicara padanya dan terkesan
dingin kepada semua orang terutama terhadap kaum hawa.
“hanya mengikuti langkah kakiku
saja. Ternyata ada pemandangan yang sangat indah disini” jawabku mencari alasan
tapi yang keluar dari bibirku malah hal yang tidak jelas. Kuperhatikan laki-laki
didepanku ini dia tinggi berhidung mancung dan memiliki paras blasteran. Entah dia
memperoleh dari kedua orangtuanya ataupun dari nenek moyangnya.
“owh” jawabnya singkat. Dia melangkah
kedepan dan singgah disebuah bangku yang sudah tua. Aku perhatikan dia hanya
memandang kedepan tanpa menoleh kepadaku.
“kalau begitu aku permisi. Maaf mengganggu
ketenangmu” ucapku meninggalkannya. Awalnya hanya kebetulan dan aku berharap
itu Cuma hal yang benar-benar kebetulan.
Hingga aku tersadar sudah jam 4
sore aku belum juga pulang kerumahku. Aku duduk diam menunggu angkot di halte. Entah
mengapa baying laki-laki itu muncul lagi dalam benakku.
“pit.pit.pit.pit” suara angkot
langgananku muncul dan diiringi lagu dangdut. Pernah sekali aku bertanya pada
pak supir.
“kenapa angkotnya harus punya music
dan lagu yang benar-benar punya suara ekstra?” tanyaku pada pak supir. pak
supirnya dengan santai menjawab “supaya semangat mbak ”. tapi dalam benakku
sebenarnya aku terganggu dengan volume suaranya yang ekstra tapi mau gimana
lagi. Ini angkot adalah satu-satunya yang mau mengantar sampai depan kompleks.
** rumah
Aku masuk kedalam rumah sambil
mencium tangan ibuku. Aku langsung disuruh ganti baju dan membersihkan diri
dari bau keringat. Selesai mandi dang anti baju aku sibuk mengotak-atik
pernak-pernik yang ada didepan meja riasku. Dalam kamarku cukup sederhana
berwarna biru langit dengan lemari disudut kamar disampingnya sebuah tempat
tidurku. Dan ada dua meja dalam kamarku satu meja rias yang langsung
berdampingan dengan tempat tidurku dan meja belajarku yang menghadap ke jendela
kamarku. Terkadang ketika aku bosan belajar aku termenung didepan meja belajar
sambil memandangi langit tapi sekarang ini aku hanya menyisir rambutku dan
memakai piyama. Aku keluar dari kamar menuju ke dapur mencari air ataupun
cemilan yang terkadang itu adalah milik kakakku ataupun adikku tapi aku adalah
ratu makanan ringan. Ibuku sedang sibuk
memasak sambil menegurku untuk jangan bertindak yang tidak-tidak lagi sebelum
kakakmu pulang kuliah dan ngomel kayak orang lagi bertengkar dengan pacarnya
dan membuat adikmu ngambek gak mau keluar kamar. Aku akhirnya mengurungkan
niatku dan ikut membantu ibu yang sedang masak walaupun yang kulakukan hanya
memotong beberapa sayuran dan bawang saja.
Seperti biasa aku chatting dengan
sahabat-sahabatku.
Dinda.
“Minggu ini kita nonton yuk”
ajaknya
“memangnya minggu ini film apa
yang lagi tanyang?” balasku
“ada beberapa sih tapi nanti kalo
disana kita tentuin” balas dinda
“ok. Sip. Tenang aja aku usahain
bisa keluar hari minggu ini” balasku lagi
Setelah gak ada balasan dari
dinda tak berselang lama ada sms masuk. Kulihat ternyata raisa.
Raisa.
“hy. nay” isi pesannya
“juga. Kenapa Rai?” balasku
“minggu ini main-main ketempat
yang alami dong nay” balasnya
“memangnya kamu punya referensi
mau kemana?” balasku lagi
“ada sih. Beberapa tempat yang
masih alami bangat” balas Raisa lagi
“tapi tadi Dinda ngajak aku buat
nonton hari minggu ini.” Balasku lagi
Tak lama Raisa balas “kalo gitu
besok kita bicara deh. Supaya jelas kita mau kemana. Ok Nay” isi pesannya.
Kujawab singkat saja ”ok. Kalo gitu.
Good nigth”
Raisa “good night too and happy
nice dream”
Karena sudah larut malam akupun
memutuskan untuk tidur.
** sekolah
Aku berlari sambil memandangi jam
tanganku aku terlambat lima menit dan bisa dipastikan aku telat masuk. Dan dubrakkk.
Aku menabrak orang didepanku akupun marah-marah mengatakan kenapa berdiri
dijalan kamu pikir koridor sekolah ini milik bapakmu apa? Omelku. Kemudian aku
bangkit dan kupandangi wajahnya sekilas dan dia hanya heran melihatku yang
pergi sambil mengoceh tidak jelas tanpa minta maaf.
Seseorang pindah jurusan dari ipa
ke ips yang kita tahu bersama bahwa kelas ipa selalu menjadi favorit dan ips
selalu dengan imej bahwa kelas orang-orang tidak pandai.
Siapakah yang pindah kelas dan
kelas siapa?
Tungggu kelanjutannya
Komentar
Posting Komentar