Di depan
tangga kamar kostku aku menangis sejadi-jadinya. Aku berharap menghadapi semua ini dengan senyuman
tapi bahkan untuk sampai ke kelas untuk kuliah saja aku bahkan tak mampu untuk
berjalan. Rasanya sesak di dadaku tak mampu ku kendalikan. Semuanya haku bahkan
berharap dapat menghilang dan tenang dengan kehidupan yang kuharapkan tapi
kenyataannya aku masih disini masih dalam keadaan yang sama dengan yang
kemarin. Aku berharap dapat terbang dengan sayap-sayap mmpiku tapi semua itu
hanyalah ilusi belakaku. Ketika dunia menhujatku tanpa tahu keadaanku hanya
senyuman pahit sepahit kopi tanpa gula yang kuberikan. Aku ingin berjalan sama
dengan orang lain tanpa beban tapi apa mau dikata jalan hidupku terlalu pahit
dan sulit untuk seperti orang lain yang berjalan tanpa beban.
Duduk di
depan notebook-ku aku berharap dapat energy yang kuat dari sinar matahari yang
menyapaku dengan sinarnya yang indah. Seseorang yang selalu menyemunyikan
dirinya dalam balutan keceriaan kepada orang lain dan senyuman seseorang yang
selalu larut dalam buku-buku fiksi mauppun non fiksi menjadi orang yang selalu
berteriak dan mengomel dalam hari-harinya tapi tersembunyi luka yang besar
dalam dirinya.
Aku
bertanya dalam diriku kapan dunia melihatku?
Kapan aku
hidup seperti orang lain tanpa beban?
Apa ada
yang mau mendengar ceritaku ?
Apa ada
yang bisa melihat kisahku sebagai cerita yang indah?
Aku sendiri
tidak tahu aku hanya berjalan dengan langkah kakiku yang entah akan membawahku
kemana. Aku teringat lagu weslife “ I have a dream” entah apa yang aku inginkan
tapi saat ini aku berharap beban dipundakku berakhir dengan senyuman bahwa
semua itu hanyalah masa lalu tapi kapan itu ?
Komentar
Posting Komentar