Sebuah
karya dari @Seo_raya17 (IG)
Aku
tinggal disebuah asrama sekolah selama sekolah menengah. Pada suatu hari aku
melarikan diri. Aku memang menyukai keramaian namun kadang keramaian membuat
dadaku sesak. Hari itu akan ada kegiatan pernikahan anak dari bapak asrama. Aku
hanya tidak menyukai keramaian saat itu aku lebih suka larut dalam buku-buku
novel yang kubaca ataupun dalam buku-buku pelajaran hingga drama korea yang
kusukai. Aku tak banyak bergaul dengan orang lain. Aku tipe orang yang sulit
beradaptasi dengan lingkungan baru.
Aku
menjadi anak yang tertutup untuk sebagian orang namun menjadi sangat aktif dan
tidak bisa diam jika aku sudah mulai akrab. Mungkin saat itu. Aku juga menyukai
diriku saat itu tak banyak kata namun terkadang bisa lepas kendali. Kembali
lagi pada ujinyaliku untuk melarikan diri. Aku melarikan diri selepas pulang
sekolah di hari jumat belum seperti saat ini bahwa pelajar mendapat jatah libur
si hari sabtu minggu.
Aku
pulang sekolah. menyusuri jalan-jalan di samping kantor Dinas Pendidikan
Nasional. lalu mengambil jalan memotong dengan naik tangga menuju jalan utama
di kotaku. Kulanjutkan melangkah hingga menyusuri jembatan yang membentang
ditengah kota. Sehari-hari kami para
pelajar memang menyusuri jalan-jalan kecil hingga jalan utama menuju sekolah tak
ada angkot ataupun ojol hanya ada ojek pangkalan namun sebagai pelajar agak
mahal jika menggunakan mode transportasi tersebut. Untuk bus hanya tersedia
bagi pelajar yang berjarak 10-15 kilometer dari kota itupun hanya sampai di
halte-halte utama lalu dilanjutkan dengan berjalan kaki. Padatnya pelajar di pagi hari menjadi rutinitas
yang menyadarkan bahwa kota ini masih hidup bukan kota mati. Dan begitupula
dengan jam pulang sekolah dibawah teriknya matahari namun lalu-lalang para
pelajar begitu padat menyusuri jala-jalan di dalam kota.
Tak
jauh dari jembatan utama adalah asramaku disamping salah satu Masjid terbesar
yang ada di Kotaku. Namun, entah apa yang kupikirkan hari itu aku memutuskan
untuk melarikan diri dari asrama dan memilih untuk belok kanan ketimbang
berjalan lurus menuju asrama. Aku mengambil jalur disisi kiri sungai yang
membentang didalam kota. Aku berjalan
terus berjalan memantapkan hatiku untuk melarikan diri dari asrama. Tidak
seperti pinggir sungai di kota besar pinggir sungai di kotaku bersih bahkan
rumah-rumah yang berdiri kokoh merupakan rumah beton berlantai 2 hingga 4
lantai.
Aku
berjalan menyusuri pinggir sungai hingga tiba di jalan buntu dan berbelok kiri
terus beberapa meter hingga menemukan taman kota yang aku pun sangat jarang
pergi mengunjungi taman ini. Lalu berbelok kanan terus berjalan disamping
beberapa UMKM milik warga kota yang telah berumur karena masih dalam bangunan
tua gaya 60an-70an. Namun dulunya daerah ini merupakan daerah elit di zamannya.
Lalu aku tiba di pertigaan jalan dan
mengambil jalur kanan hingga tiba di jalan utama disamping kanan rumah jabatan Bupati dan tepat didepanku
rumah jabatan wakil bupati.
Tak
ada yang istimewah jika mengarahkan wajah kalian kearah kanan kalian akan
melihat ada tugu dan beberapa meter didepannya ada kantor polisi dan sebuah
jembatan tua disamping kirinya. Orang-orang dikota kami menyebutnya Jambas yang merupakan singkatan
dari ‘jambatang bassi’ atau jembatan besi dalam bahasa Indonesia. Kulanjutkan dengan berjalan
beberapa meter lalu menyebrang ke sisi kiri jalan utama. Aku berjalan terus
melewati tugu kota, kantor polisi dan tiba di sebuah halte tua yang menjadi
andalan bagi pelajar menunggu kendaraan yang akan membawanya ke tujuan
masing-masing.
Saat
itu uang dalam kantongku hanya ada tujuh ribu rupiah. Bukan angka yang besar
mengingat jika menggunakan mode transfortasi umum dikenakan lima ribu untuk umum
dan tiga ribu untuk pelajar namun karena aku jarang menggunakannya jadi aku
selalu membayar lima ribu setiap kali menggunakan transfortasi umum. Namun,
kebiasaan para pelajar dikota ku ialah menunggu supir truck untuk meminta
tumpangan dan itu gratis. Ini sudah menjadi tradisi di kota ku bahkan hingga
kini aku masih terkadang melihat itu jika pulang kampung. Para pelajar
penggunanya terutama yag masih berseragam putih biru karena belum mendapatkan
izin untuk menggunakan kendaraan pribadi.
Aku
takj jauh berbeda menunggu keajaiban jika ada yang bisa memberikan tumpangan
hingga tujuanku. Aku menunggu dengan duduk di halte. Beberapa pelajar memilih
untuk menunggu agak jauh dari dahlte dan berkelompok-kelompok. ada beberapa
kelompok yang terlihat mengobrol hingga tertawa bersama-sama mengalihkan
perhatian ditengah menunggu yang tak pasti. Kadang ada supir yang tidak ingin
mengambil para pelajar jika terlalu banyak. Hingga kita harus pintar-pintar
memilih tempat dan teman.
Aku
yang sedang melarikan diri dan tidak punya teman akhirnya menunggu berjam-jam
hingga ada yang memberikan tumpangan. Sepanjang perjalan aku memperhatikan
jalan yang beliuk-liuk maklum saja daerah ku itu pengunungan hingga jalan
porosnya itu berkelok-kelok seperti ular dan sekitar 15 menit aku sampai pada
pemberhentian pertamaku. Namun karena ini hari jumat dan jarang kendaraan yang
lalu lalang makanya aku memilih untuk berjalan kaki hingga kampungku. Aku
menyusuri hutan sekitar 1 jam dari jarak 3-4 kilometer dari pemberhentian
pertamaku.
Namun
ditengah perjalananku dalam hutan aku mengalami perjalan yang MISTIS.....
To
Be Continue...
“Kuntilanak
tak Berkepala”
Komentar
Posting Komentar