Seperti
biasanya aku terbangun di saat fajar belum menunjukan dirinya. Kumulai
aktivitasku seperti biasanya. Aku
tinggal di sebuah kos-kosan. Daerah padat penduduk yang sempit dan jalan
gang-gang kecil di sana-sini. Aku memilih daerah ini karena alasan harga yang
lebih murah untuk anak-anak perantau sepertiku. Aku sudah kenyang dengan
olok-olokan teman-teman kuliahku yang sering memanggil daerah tempat tinggalku
Texas ala kota ini.
Aku
sering mendengar banyak kisah tentang tempat ini. Kisah tentang begal, preman,
judi, pemalak liar, pencopet, kekerasan, bahkan ada di daerah ini. Hampir semua
pernah kualami selama empat tahun
tinggal disini. Seringkali kisah-kisah itu kualami secara tidaklangsung.
Narkoba.
Ini bukan pertama kalinya aku punya cerita tentang itu. Bukan sebagai pemakai,
pengedar ataupun bandar hanya saja aku memiliki kisah tersendiri. Pertama, aku
pernah memiliki tetangga kamar kos yang merupakan pengedar narkoba. Jika
kuingat-ingat kejadiannya itu tahun lalu sekitar n5lan februari atau maret aku
lupa pastinya.
Aku
tidak terlalu peduli dengan tetangga baruku mungkin karena aku merasa
terintimidasi jika menatapnya ditambah lagi dengan perawakannya. Dia berbadan
gembul, memiliki tato di lengan kiri kanannya,
perutnya buncit, wajahnya tidak ramah. Ketika ia sedang berbicara atau
menatap seolah ia akan memangsa kita tetapi juga terlihat jelas diwajahnya bahwa ia sedang
waspada dan berhati-hati. Dari yang kudengar ia baru saja keluar dari penjara
dan masih dalam masa percobaan.
Seringkali
mengganggu kenyaman sesama penyewa kos. Bahkan berani memalak kepada tetangga
kos yang lain. Setelah sebulan menjadi tetanggaku dengan berbagai
kontroversinya akhirnya ia dibawah oleh kepolisian setempat.
Kejadiannya
sekitar jam 2 dini hari. Saat itu aku mendengar ada ribut-ribut sambil mengetuk
pintu kamar tetanggaku. Aku terbangun ketika mendengar suara gertakan. Entah
apa yang sedang terjadi pikirku. Aku bangun lalu mencoba melihat dari celah jendela
kamarku. Ketika itu aku melihat sekita 6-7 motor sedang diparkir di lorong
jalan yang menghadap langsung ke kamarku.
Aku
masih bisa mendengar tetanggaku sedang berbicara secara pelan-pelan mungkin
mereka sedang bersembunyi atau apalah akupun tak mengerti saat itu. Lalu
kudengar pintu terbuka lalu orang-orang itu langsung memanggil nama seseorang
terjadi beberapa lama dalam pemanggilan yang tak disahuti oleh si pemilik nama.
Naas
baginya karena sang anak tiri membuka mulut bahwa ayahnya ada diatas. Setelah
negosiasi yang lumayan alot akhirnya sang pengedar di lumpuhkan. Dengan
langsung mendorongnya ke lantai dan memborgolnya. Aku melihat dari celah
jendelaku dilantai dasar. Aku hanya tahu bahwa ia dibawah oleh polisi tanpa
tahu apa yang terjadi. Esok harinya baru aku tahu bahwa ia ditahan disebabkan
karena berperan sebagai pengedar narkoba dari tetangga-tangga di lorongku.
Kejadian
kedua, itu agak miris menurutku. Ketika pagi hari aku ingin membeli pulsa
sekitar jam 9 pagi. Aku keluar dari kamar kos dan mengambil jalur kanan berjalan
terus hingga mentok ujung jalan lalu kuambil jalur kiri berjalan beberapa meter
lalu ada sebuah konter penjual pulsa di sisi kiri jalan. Karena mungkin masih
pagi sehingga konter itu belum menata barang dagangannya. Aku berniat membeli
voucher. Ketika aku berbelok sebelumnya bersamaan dengan adanya motor yang juga
berhenti. Ada dua orang anak muda yang berboncengan.
Awalnya
aku tidak pernah kepikiran untuk melihat transaksi jual-beli barang haram
tersebut didepanku. Ketika aku memesan voucher sang pemilik masuk kedalam rumah
mengambilnya lalu aku pun berdiri menunggu sambil kuperhatikan sekitarku.
Sang
Nenek yang tadi melayaniku berkata pada pelanggan setelahku bahwa ia tak
menjualnya pada anak sekolah. Lalu kuarahkan pandanganku menatap seorang anak
laki-laki yang masih berseragam
SMPberdiri disisi kiri dimotor sambil menunggu kawannya. Lalu sang kawan
menjawab bahwa ia yang membelinya bukan anak itu. Aku tidak peduli, aku hanya
ingin voucherku segera datang. Tapi apa yang kulihat membuatku membeku
seketika. Sebuah plastik bening kecil yang biasa digunakan oleh dokter, Farmasi,
ataupun Bidan dalam memberikan obat. Aku melihat ada dua pil didalamnya. Ketika
sang nenek menyadarinya ia dengan segera memasukannya kedalam dompetnya yang
berwarna hitam berbentuk setengah lingkaran.
Tak
lama setelah aku melihat transaksi tersebut sang Anak datang membawahkanku
voucher. Dengan segera aku membayarnya dan pergi dengan langkah seribu.
Kepalaku dipenuhi dengan berbagai pertanyaan. Bahkan ketika aku sampai di kamar
kos. Aku langsung bersimpuh dibalik
pintuh dengan tangan yang masih gemetaran. Aku tidak percaya aku telah melihat
dan mengetahui transaksi tersebut.
Satu
yang kusadari bahwa pengedar saat ini sangat
cerdas mencari celah bahkan para pengedarnya pun mulai bervariasi.
Konter penjual pulsa menjadi salah satu kedok yang digunakan untuk memperlancar
transaksi jual beli barang haram ini. Tapi satu hal yang menjadi perhatianku.
Sang pengedar mengatakan tak menjualnya ke anak sekolah? Apakah itu hanya
intuisi rasa simpati untuk generasi muda ataukah keterlibatan oknum-oknum
tertentu yang melarangnya atau itu sebuah kebijakan yang telah ditetapkan? Aku
tak tahu jawabannya. Mari menerka-nerka jawaban atas pertanyaanku.
Narkotika
dan sejenisnya. Tidak heran jika dikatakan bahwa Indonesia merupakan pasar yang
besar bagi para aktor-aktor yang terlibat dalam bidang ini. Salah satu
kejahatan Transnasional yang seringkali
terjadi di Asia Tenggara ialah Drug
Trafficking. Ini bukan hanya sekedar isu yang lumrah tapi juga kondisi
negara kita telah masuk dalam lampu orange bukan lagi kuning.
Keterlibatan
antara produsen dan distributor takkan pernah lancar tanpa adanya pasar atau
konsumen yang besar.
SEO.
Itulah yg terjadi sekarang, generasi muda yg seharusnya menjadi pemimpin bangsa malah larut dgn kehidupa prakmatis,hedonisme,egois,dll.
BalasHapusTapi sepenuh nya juga bukan salah mereka. Melainkan lingkungan juga berperan aktif dalam pembentukan pemuda. Ketika lingkungan nya jelek,maka dia akan mengikut pada lingkungan. Walaupun awalnya mengatakan tidak. Tapi lama kelamaan akan tergerus sifatnya.
Itu juga tdk terlepas dari peran negara. Yg mana negara seharusnya memberi hukuman efek jera kpd pelaku pengedar, pengkonsumsi...
Agar mereka tdk melakukan nya.
Klw dlm islma narkoba di samakan dgn minuman khamr. Yg mana ketika mengkonsumsi itu, maka kita akan kehilangan kesadaran...
Jafi hukumnya HARAM